Khutbah Idul Adha 2


TAUHID DAN QURBAN SEBAGAI LANDASAN PEMBANGUNAN


الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا
لااله إلا الله وحـده ,صد ق وعـده ,ونصرعـبده، واعزجـنـد
و هزم الأحزاب وحـده
لااله الاالله ولانعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون ولو كره المشركون ولو كره المنافقون
لااله الاالله و الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

الحمد لله الذى انعم علينا وهدانا الى دين الأ سلام و جعل رمضان شهرا مباركا ورحمة للناس واشكرونعمة الله ان كنتم اياه تعبدون و لعلكم تتقون.
اشـهـد ان لااله الاالله وحده لاشريك له واشـهـد ان محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم وبارك على سيد المرسلين وعلى آله وصحبه اجمعين. فيا ايها المؤمنون والمؤمنات:أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فازالمتقون واتقوا الله حق تـقاته ولاتموتن إلاوانتم مسلمون

Allahu akbar… Allahu Akbar… walillahilhamd…

Sekali lagi momentum agung menghampiri kita, Idul Adha 1426 H. Hari Raya Qurban. Secara historis merupakan peristiwa heroik dan menegangkan.yang diteladankan oleh panutan kita Nabi Ibrahim A.S.dan putranya, Nabi Ismail AS.
Pada hari ini, jutaan manusia, dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai refleksi rasa syukur dan sikap kehambaan mereka kepada Allah SWT. Sementara jutaan yang lain sedang membentuk lautan manusia di tanah suci Makkah, menjadi sebuah panorama menakjubkan yang menggambarkan eksistensi manusia di hadapan kebesaran Allah Yang Maha Agung. Mereka serempak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan-Nya, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika lak.”
“ Wa adz-dzin fin-nasi bil hajji ya’tuka rijalan wa a’la kulli dhomirin ya’tiina min kulli fajjin a’miq “ (al Hajj, 27)
“Liayasy-hadu manafi’a lahum wa yadzkurus-mallahi fi ayyamim-ma’lumatin ‘ala ma rozaqnahum min bahimatil-‘an’ami fakulu minha wa atth’imul-baaisal-faqir”(al-hajj, 28) [al-Hajj, 27] Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang datang dari segenap penjuru yang jauh, [al-Hajj, 28] supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.
Ma’asyirol muslimin …..
Pada kesempatan ini kita memperingati hari raya kurban dengan penuh keprihatinan. Ibu pertiwa sedang berduka, Negeri tercinta masih berbalut kalut dan nestapa. Gelombang musibah datang silih berganti tiada henti. Memasuki tahun baru 2006 ini kita dikado parsel berupa bom di palu, di uji oleh Allah dengan musibah tanah longsor di Jember, Jawa timur dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Padahal sepanjang 2 tahun ini negri kita sudah di goncang dengan berbagai bencana yang memilukan, Baik musibah alam seperti tsunami, banjir, gempa, tanah longsor, begitu pula musibah sosial yang diakibatkan oleh ketimpangan prilaku sosial seperti kelaparan, kemiskinan, pengangguran, korupsi, buruknya pelayanan birokrasi, serta muncuatnya musibah baru berupa terror bom. Menghadapi semua ini seluruh komponen bangsa harus bersatu merapatkan barisan dan tegar mensikapi berbagai persoalan.
Ditengah keterpurukan bangsa yang membayangi kehidupan negeri kita ini, seolah persoalan demi persoalan diurai dan didemonstrasikan oleh Allah SWT, ayat – ayat bencana ditilawahkan setiap saat untuk mengingatkan bangsa yang sedang lupa, kitab kauniyah berbicara dengan bahasanya sendiri, alam menggelorakan tasbih dan kemarahannya, samudera menangis dan meluapkan gelombang amarahnya menyapu daratan, menggulung selurah permukaan, menghantam perumahan, menyeret orang-orang dekat yang kita cintai, semua ini meninggalkan luka melahirkan duka, menumbuhkan kesadaran kita sebagai bangsa untuk kembali mengikuti tata-nilai sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah SWT. Allahu Akbar sungguh Engkau lah yang Maha Perkasa dan telah menunjukkan keperkasaan-Mu di negeri kami ini, ya Allah .
Apapun yang telah menimpa negri kita, semua peristiwa dan bencana yang telah terjadi semata-mata karena kesalahan dan dosa kolektif yang dilakukan oleh seluruh komponen bangsa. Dosa para pejabat korup, dosa pemimpin yang dzolim, dosa orang-orang kaya yang tamak, dosa orang tua yang acuh dengan kerusakan moral remaja, dosa rakyat yang hanya menunutut kesejahteraan tanpa mau bekerja keras, dosa para ulama yang tidak memberikan tauladan kepada umat, dosa dan dosa yang kalau kita urai satu persatu akan memenuhi isi perut bumi yang kita huni.
Ma’asyirol Muslimin hafadzokumullah …..
Betapa mudahnya kita terjebak dalam tindakan-tindakan yang menyimpang baik dari sisi agama yang kita yakini maupun tata nilai dan etika universal yang objektive. Seandaianya perbuatan dan tindakan kita sesuai dengan parameter dan barometer taqwa yang sesungguhnya maka tentu yang terjadi justru sebaliknya, Allah SWT akan memberikan barokah kehidupan negeri yang indah ini dengan kekayaan alam yang tercurah dari perut bumi, dari kedalaman samudera dan dari atas langit. Negri kita akan menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur – negeri gemahrifah loh jinawe. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam surat al-Baqorah, ayat 103 :
“ walau anna ahlal quro amanu wattaqaw lafatahna a’laihim baraokatin minas-sama’ wal-Ardli “ (al-a’rof, 96)
(Anda penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka kami akan anugerahkan kepada mereka barokah kemakmuran dari langit dan bumi dengan alam yang lestari)
“walau annahum amanu wat-taqaw lamatsubatun min i’ndillahi khoirul-law kaanuuya’lamun” (Al-Baqorah : 103)
( Seandainya mereka beriman dan bertakwa maka akan ditrunkan kepadanya kebaikan yang melimpah, yang demikian itu jika mereka mengetahui )Kehadiran Idul Adha di tengah ketidakpastian kehidupan yang saat ini dialami umat manusia secara umum, dan umat Muslim secara khusus, memiliki makna amat penting untuk ditangkap dalam perspektif ajaran dan makna agama yang substansial. Idul Adha merupakan ritual keagamaan yang sarat nuansa simbolik-metaforis yang perlu dimaknai secara kontekstual dalam pijakan nilai-nilai universal Islam. Makna terpenting Idul Adha, salah satunya terletak pada upaya meneladani ajaran tauhid (monoteisme) Nabi Ibrahim (AS) yang bersifat transformatif. Dalam perspektif Islam, pengalaman rasional dan spiritual yang dilalui Ibrahim mengantarkan kepada keyakinan tentang tauhid sebagai suatu kebenaran hakiki. Ajaran ini meletakkan Allah sebagai sumber kehidupan, moralitas, bahkan eksistensi itu sendiri. Tanpa Allah, yang ada hanya kekacau-balauan,kehampaan, bahkan ketiadaan dalam arti sebenarnya. Keyakinan seperti itu berimplikasi langsung pada keharusan Ibrahim untuk menampakkan eksistensi itu dalam kehidupan nyata sehingga manusia dan dunia dapat menyaksikan dan ”menikmati” kehadiran Sang Pencipta dalam bentuk kehidupan yang teratur, harmonis, dan seimbang.
Di dalam Al-Qur’an kita dianjurkan agar mengikuti agama Nabi Ibrahim yang hanif. “ Qul shodaqollahu wattabi’ millata Ibrohiima hanifa wama kana minal musyrikiin” (ali Imron 95) dan juga firman Allah yan berbunyi : “ anittabi’ millata ibraahim hanifan wama kana minal musyrikiin (an nahl 123)”, hendaklah kamu mengikut agama Ibrahim yang lurus, atau tidak menyimpang. Selain disebut hanif, agama Ibrahim juga disebut agama yang penuh samaahah, atau agama yang penuh toleransi terhadap manusia lain.
Baik dalam Al-Qur’an maupun Hadis, Nabi Ibrahim disebut-sebut sebagai bapak dari nabi-nabi yang membawa teologi tauhid atau keesaan Tuhan. Inti pesan inilah yang kemudian diwariskan Nabi Ibrahim kepada nabi-nabi sesudahnya, dan tetap menjadi corak agama-agama sesudahnya. Karena itu, agama-agama yang berafiliasi kepadanya sesungguhya memiliki akar yang sama, yaitu akar ketauhidan. Makanya, sebagian ritualnya yang tidak bertentangan dengan akar ketauhidan tetap dipelihara dan diikuti oleh umat-umat sesudah Nabi Ibrahim. Pengorbanan atau persembahan yang dilakukan Ibrahim merupakan manifestasi dari hal itu. Peristiwa ini memiliki dua dimensi yang bersifat vertikal dan horizontal. Secara vertikal, kejadian simbolik itu merupakan upaya pendekatan diri (kurban) dan dialog dengan Tuhan dalam rangka menangkap nilai dan sifat-sifat ketuhanan. Proses ini mengondisikan umat manusia melepaskan segala hawa nafsu, ambisi, dan kepentingan sempit dan pragamatisnya sehingga dapat “menjumpai” Tuhan. Secara horizontal, hal itu melambangkan keharusan manusia untuk membumikan nilai-nilai itu dalam kehidupan nyata. Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman : “an-naasu ‘iyali wa ahabbahum ilayya anfa’uhum li ‘iyali” seluruh umat manusia adalah warga dan kelurga-ku dan sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak memberikan manfaat /kebaikan kepada mereka). Dalam hadis lain yang diriwaatkan oleh Imam Tirmidzi Rasulullah SAW bersabda : “At-Tho’im as-syakir kas-sho’im as-shobir” (dermawan yang mensyukuri dan mencintai kedermawanannya seperti ahli puasa yang shabar dengan ibadah puasanya) . Agama telah mengajarkan arti penting ibadah sosial dalam pembangunan bangsa dan pengembangan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari refleksi keimanan dan tauhid yang kita yakini. Wahyu Allah SWT kepada Ibrahim untuk mempersembahkan putranya yang kemudian diganti binatang kurban memperlihatkan, tidak satu manusia pun boleh merendahkan manusia lain, menjadikannya sebagai persembahan, atau melecehkannya dalam bentuk apapun. Sebab, manusia sejak awal dilahirkan setara dan sederajat. Nilai-nilai yang merepresentasikan kesetaraan dan sejenisnya perlu diaktualisasikan ke dalam realitas kehidupan sehingga dunia dipenuhi kedamaian dan kebahagiaan hakiki. Tuhan pada hakikatnya tidak membutuhkan apa-apa, termasuk persembahan. Perintah itu hanya untuk menguji ketaatan manusia dalam merespons pesan dan perintah ilahi dan kesediaannya untuk tidak dikungkung kediriannya yang subyektif, atau impuls-impuls kejahatan yang menipu. Persembahan sekadar suatu simbol yang melambangkan makna yang lebih substansial, yaitu ungkapan ketaatan untuk mengembangkan nilai-nilai agama yang sejatinya selalu bersesuaian dengan nilai kemanusiaan perenial. Dalam hadisnya Rasulullah mengecam keras orang yang tidak peduli dengan lingkungan dan masyarakatnya. “ laisa minna mal-laa yahtam bi umuril muslimin” (bukanlah termasuk golongan orang muslim, mereka yang tidak peduli dengan kesulitan suadaranya)
Ma’asyirol Muslimin hafadhokumullah ……
Ditengah suatu bangsa, ketika orang kaya hidup mewah diatas penderitaan orang-orang miskin, ketika anak-anak yatim dan mereka yang papa merintih dalam belenggu nasibnya, ketika para penguasa membunuhi orang-orang tak beradaya hanya untuk kesenangan, ketika para hakim memihak kekayaan dan memasukkan ke penjara orang-orang kecil yang tidak berdosa. Dalam kondisi inilah maka esensi perayaan Idul Qurban yang sesungguhnya perlu kita aktualisasikan. Pembelaan kepada mereka yang kurang mampu secara ekonomi, pembelaan terhadapa mereka yang mendapat perlakuan tidak adil secara hukum, pembelaan terhadap mereka yang tidak mendapatkan haknya dari penguasa. Rasulullah menyampaikan pesan sosialnya :
Wama lakum laa tuqotiluuna fii sabilillahi wal-mustadh’afiina minarrijali wan-nisai wal wildanil-ladziina yaquuluna robbana akhrijna minhadzihil qoryatidz-dzolimi ahluha waj’alna mil-ladunka waliyya waj’alna mil-ladunka nashiiro. (an-nisa’- 75)
( Mengapa kamu tidak mau berjihad dijalan Allah, membela orang-orang tertindas baik, laki-laki maupun perempuan dan anak-anak yang semuanya berdo’a : Ya Tuhan kami, keluarkan kami dari negeri yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah penolong dari sisi-Mu).
Hari raya qurban yang sesungguhnya adalah menumbuhkan sikap tenggang rasa dan kepedulian terhadap sesama. Norma atau cita-cita sosial inilah yang sesungguhnya ingin dihidupkan dalam ajaran tauhid. Sebagaimana yang ditegaskan dalam sabda Nabi SAW :” Maa aamina bii man baata syab’anun wa jaaruhu jaai’uun ila janbinhi wahuwa ya’lamu” (Tidaklah sempurna iman seseorang terhadapku, bila dia hidup dalam keadaan kenyang sedangkan dia tahu tetangganya sedang dalam kelaparan).Monoteisme Islam Ma’assyirol Muslimiin rahimakumullah …. Berdasarkan tauhid Nabi Ibrahim AS, Rasulullah (SAW) mengajarkan, seorang Muslim dituntut untuk menyembah hanya kepada Allah (tauhid uluhiyah), dan pada saat yang sama harus pula meyakini, Allah adalah Tuhan yang  Maha Esa, bersifat mutlak, dan transendental (tauhid rububiyah). Keyakinan seperti itu menunjukkan, segala sesuatu yang selain Allah merupakan makhluk yang tidak memiliki hak sedikit pun untuk diperlakukan sebagai Tuhan atau disikapi seperti Tuhan. Pada saat yang sama, hal itu menggambarkan ketidakbolehan manusia untuk diperlakukan semena-mena atau direndahkan karena manusia di hadapan Tuhan adalah sederajat. Implikasi logis dari hal itu adalah munculnya tauhid sebagai nilai moral transformatif dalam kehidupan sosial. Ke-tauhid-an Islam adalah akidah yang menumbuhkan moralitas pembebasan manusia. Dengan demikian, ada hubungan tak terpisahkan antara ide monoteisme pada satu pihak, dan pengembangan moral kemanusiaan universal pada pihak lain. Kedua aspek itu merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Surat al-Mâ`ûn (107) menggambarkan secara nyata nilai-nilai itu. Surat ini mengungkap dengan jelas, orang yang tidak memiliki solidaritas sosial dan nilai-nilai semacam itu, memiliki posisi yang sama seperti orang yang mendustakan agama. Khotbah Haji Wada’ (dan ibadah haji harus berlabuh dalam Idul Adha) yang disampaikan Rasulullah (SAW) mengukuhkan hubungan itu. Dalam ibadah haji itu, Nabi menyatakan tentang keharusan manusia untuk menjaga hak dan kehormatan orang lain, serta memperlakukan manusia lain seperti memperlakukan diri sendiri. Menurut Rahman (1979: 25), khotbah Nabi itu merepresentasikan prinsip-prinsip yang harus menjadi intisari perkembangan yang mendasari gerakan Islam dalam kemajuannya yang aktual dan tujuan yang ingin dicapainya. Prinsip itu adalah humanitarianisme, egalitarianisme, keadilan sosial dan ekonomi, kebajikan, serta solidaritas sosial. Konkritnya, tauhid-kata Nasr (1975: 29)-merupakan alfa dan omega Islam. Unity selain bersifat pernyataan metafisik tentang karakteristik zat yang absolut, juga merupakan suatu cara integrasi, wahana untuk menjadi utuh, dan sebagai realisasi kesatuan dalam semua eksistensi. Melalui prinsip-prinsip itu, umat Islam secara metafisik-vertikal harus meyakini keesaan Tuhan, dan pada saat yang sama mereka dituntut mengusung nilai-nilai itu ke ruang publik dalam bentuk pengembangan moralitas yang dapat mencerahkan kehidupan. Meneguhkan moralitas Pengembangan tauhid seperti diungkap sebelumnya menjadi niscaya untuk dikembangkan dalam konteks kekinian dan dalam kontek pembangaunan serta pengabdian humanis karena (sebagian) masyarakat Muslim cenderung memaknai tauhid sekadar percaya dan meyakini keesaan Allah. Monoteisme dipangkas dari maknanya yang substantif sehingga Islam mengalami reduksi pada implementasi rukun Islam yang lima. Dengan demikian, tauhid belum menjadi faith in action yang menjadi rujukan moral dalam segala sikap dan perilaku sosial kemasyarakatan. Pengembangan tauhid dalam kerangka pemahaman yang holistik itu mensyaratkan adanya kesiapan umat Islam untuk merekonstruksi keberagamaan mereka dengan cara memahami dan memaknai ajaran dan nilai agama secara menyeluruh dan menghindari sejauh mungkin pemahaman yang sepotong-potong, parsial. Dalam sisi itu, umat Islam perlu menyikapi ritual-ritual agama selain sebagai konkretitasi bentuk kepatuhan kepada Tuhan, juga mereka perlu menangkap makna intrinsik-yang sebagian besar bersifat moral-yang terdapat pada upacara keagamaan itu. Pada sisi itu, udlhiyah (pengorbanan) dalam Idul Adha perlu dimaknai dalam kerangka pembumian nilai agama yang memiliki spektrum moral yang luas. Pengorbanan merepresentasikan upaya pencapaian nilai-nilai kebaikan sejati yang pada prinsipnya bersifat moralitas perenial dan universal, seperti melepaskan egoisme, narsisme, dan sejenisnya, berlaku adil kepada siapa saja, dan mengembangkan kesederajatan dalam kehidupan. Melalui pemaknaan semacam itu, Idul Adha bersifat signifikan dalam meneguhkan keberagamaan substansial; keber-tauhid-an yang berimplikasi nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hari Raya Haji mengingatkan kita peristiwa keagamaan yang menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, berawal dari penghambaan diri manusia kepada kepentingan sendiri. Karena itu, Idul Qurban harus menjadi proses pembebasan manusia dari segala sifat yang membuat manusia lupa jati dirinya sebagai makhluk Allah, yang satu dengan lain memiliki kesetaraan, juga perbedaan yang tidak harus dipertentangkan. Dalam kesetaraan dan perbedaan itu manusia seharusnya menjalin kerja sama hakiki, serta membuang jauh-jauh segala bentuk permusuhan, serta segala rupa kejahatan yang lain. Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: