Perbankan di Jaman Rasulullah


Fungsi-fungsi bank telah dikenal sejak jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun tidak sekompleks fungsi perbankan sekarang. Pada masa itu, sudah terdapat proses penerimaan titipan harta, peminjaman uang untuk keperluan konsumsi dan keperluan bisnis, serta proses pengiriman uang.

Dalam Islam telah diajarkan 2 prinsip yang berkaitan dengan aktivitas keuangan dan perbankan yaitu :

  • Prinsip al-Ta’awun yaitu prinsip untuk saling membantu dan bekerja sama antara anggota masyarakat dalam kebaikan, sebagaimana yang tertulis dalam al-Quran Surat Al-Maidah ayat 2 yang berbunyi,”….Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran….”
  • Prinsip menghindari al Iktinaz yaitu seperti membiarkan uang menganggur dan tidak berputar dalam transaksi yang bermanfaat bagi masyarakat umum.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu… (QS An-nisa ayat 29).

Tentu saja, pada jaman Rasulullah semua aktivitas keuangan dan perbankannya selalu berpegang teguh dengan ke dua prinsip tersebut. Dan semua aktivitas perbankan Rasulullah ini merupakan contoh bagi kita untuk bisa melakukan aktivitas perbankan yang benar sesuai dengan syariah. Pembahasan seputar bank syariah akan diuraikan pada artikel selanjutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dipercaya oleh masyarakat Mekkah untuk menyimpan harta mereka, tetapi karena tidak dapat memanfaatkan harta titipan tersebut dan sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu untuk mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya.

Lain halnya dengan sahabat Rasulullah, Zubair bin al Awwam yang lebih suka menerima harta sebagai bentuk pinjaman dari pada sebagai bentuk titipan. Karena bersifat pinjaman, Zubair dapat memanfaatkan harta yang dipinjam, sekaligus berkewajiban untuk mengembalikannya secara utuh.

Beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan pengiriman uang diantaranya adalah Ibnu Abbas yang pernah berkirim uang ke Kufah, sedangkan Abdullah bin Zubair yang berada di Mekkah pernah mengirimkan uang ke adiknya Misab bin Zubair yang berada di Irak.

Selain itu, pada jaman tersebut, cek juga telah dipergunakan. Apalagi penggunaan cek ini telah dikenal secara luas sejalan dengan meningkatnya perdagangan antara negeri Syam dan negeri Yaman, setidaknya berlangsung 2 kali dalam setahun. Bahkan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu sendiri telah menggunakan cek untuk membayar tunjangan kepada mereka yang berhak. Dengan cek tersebut, mereka yang mendapatkannya berhak mengambil gandum di Baitul Mal yang saat itu diimpor dari Mesir.

Selain adanya fungsi menerima titipan harta, atau fungsi pinjam meminjam, dan fungsi pengiriman uang, pada jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah melakukan fungsi pemberian modal kerja yang berbasis bagi hasil seperti mudharabah, musyarakah, muzara’ah, musaqah yang telah dikenal sejak awal oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: