Kondisi Masyarakat Arab Sebelum Islam


Tanah Arab merupakan semenanjung raksasa terletak di Asia bagian Barat, tapi biasa disebut dalam kelompok Asia depan.

Di samping itu, disebut, juga dengan jazirah arab[1], yang didiami bangsa Arab, namun banyak juga bangsa Arab yang mendiami daerah-daerah sekitar jazirah.

  1. A.           Kebudayaan

Penduduk Arab (sahara) sangat sedikit dan juga yang terdiri dari suku-suku badui. Yang memiliki gaya hidup nomadik, berpindah-pindah. Akibat perpindahan itu pada akhirnya membaur, organisasi dan identitas sosial berakar pada keanggotaan dalam suatu rentang komunitas. Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan. Mereka juga suka berperang, karena terlalu seringnya sehingga mendarah daging dalam diri orang Arab[2] sehingga perang justru menjadi pengisi waktu luang yang mengasyikkan: apalagi yang menang akan mendapat harta rampasan kaum Quraisy mengutamakan anak laki-laki yang gagah, kuat dan berani, karena merekalah yang akan membawa nama baik suku, dikalangan mereka ada yang sampai hati menguburkan bayi perempuan, diantaranya Umar bin Khattab sebeluma ia masuk Islam.

Minuman arak dan judi menjadi kebiasaan mereka. Dalam dokumen syair-syair mereka tergambar, bahwa minum-minuman keras dan judi merupakan kebanggan mereka[3]. Di mata kaum Quraisy kedudukan wanita amat rendah selain sebagai kebutuhan ekonomi, juga sebagai alat pemuas seks. Begitulah tradisi jahiliah, Arab sebelum Islam.

Budaya mereka tidak berkembang, berbeda dengan penduduk yang mendiami pesisir Jazirah Arab, mereka selalui mengalami perubahan yang sesuai dengan situasi dan konsisi yang mengikuti mereka. Seperti pada masyarakat badui, negeri ini juga mahir dalam bersyair, yang sering dibacakan di pasar-pasar yang mungkin seperti pergelaran, bahkan mereka juga kaya dengan bahasa ungkapan, tatabahasa[4], dalam menyampaikan kebencian/cinta menggunakan untaian sajak, yang lebih dikenal dengan nama kahim[5].

Dari daerah Arab yang sama sekali tidak pernah dijajah bangsa lain, karena sulit dijangkau maupun karena tandus dan miskin, adalah hijaz.[6] Kota terpenting di daerah ini adalah Makkah, Ka’bah, yang disucikan dan dikunjungi oleh penganut-penganut agama asli Makkah, namun juga oleh orang-orang Yahudi yang bermukim di sekitarnya.

Dalam penjagaan kota itu, pertama berada dua suku yang pertama Jarhum, kemudian berpindah ke suku Khuza’ah dan akhirnya jatuh ke suku Quraisy dibawah pimpinan Qushai, suku inilah yang kemudian mengatur urusan politik, sejak itu kaum Quraisy yang mendominasi masyarakat Arab. Makkah menjadi mashur dan disegani, juga suku Quraisy, keadaan ini menjadikan Makkah pusat peradaban. Bangsa Arab bagaikan memulai babakan baru dalam hal kebudayaan dan peradaban. Perkembangan itu merupakan pengaruh dari budaya bangsa-bangsa sekitarnya.[7]

  1. B.            Pendidikan

Masyarakat Arab sebelum Islam merupakan masyarakat Jahiliyah yang para ahli sejarah menyebut “bodoh” (secara bahasa)[8], masyarakatnya primitif dan terpencil, meskipun demikian, jazirah Arabia, terutama Hijaz dan Nejid mereka mempunyai akal yang cerdas, bukti kecerdasan mereka dalam ilmu pengetahuan dan seni bahasa.

  1. Ilmu bintang

Orang kaldan (Babilon) adalah guru dunia bagi ilmu bintang, mereka menciptakan ilmu bintang dan membina asas-asasnya. Pada waktu tentara persi menyerbu Babilon, banyak orang-orang termasuk ahli ilmu bintang mengungsi ke negeri Arab. Dari merekalah orang Arab mempelajari ilmu bintang.

  1. Ilmu Meteology

Mereka menguasai ilmu cuaca atau ilmu iklim yang dalam istilah mereka disebut “al anwa wa mahabbur riyah” istilah Arab moderannya “Adh-Dhawahirul Jauwiyah”.

  1. Ilmu Thib

Ilmu thib ini berasal dari orang-orang kaidah. Mereka mengadakan percobaan penyembuhan orang sakit, yaitu orang sakit diletakkan di tepi jalan, dan siapa yang lalu ditanya obatnya kemudian ditulis. Dengan percobaan terus menerus akhirnya mereka dapat ilmu pengobatan orang sakit.

  1. Bahasa dan Sastra

Orang Arab sebelum Islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya. Syair-syair mereka sangat banyak. Dalam bidang bahasa dan seni bahasalah kebudayaan mereka sangat maju.[9]

  1. C.           Agama

Sebelum Islam dilahirkan, di kawasan Arab, disana berkembang agama Yahudi dan Nasrani. Namun orang pribumi masih banyak memeluk keyakinan penyembahan berhala terutama dipeluk oleh orang Arab dari Kabilah Quraisy di Makkah. Keyakinan mereka mendasarkan kepercayaan adanya lebih dari satu Tuhan. Dalam pada itu di Taif terdapat patung dewa lata merupakan perwujudan dewi atau Tuhan perempuan disembah dengan nama Ar-Rahaq, yang dianggap dewa tertua. Di Hijaz terdapat patung dewa Uzza, merupakan wujud Tuhan Maha Kuasa. Di Yastrib terdapat patung dewa Manat, merupakan perwujudan tuhan yang banyak dipuja orang Arab Badui yang berasal dari suku pengembara Huzail.[10]

Namun pengaruh kepercayaan dari timur yaitu Persia yang percaya dan menyembah api ada pula sedikit masuk dianut oleh bangsa Arab. Demikianlah sampai menjelang kelahiran Nabi Muhammad, sinar agama tauhid yang dikembangkan oleh Nabi Sulaiman dan Nabi Ibrahim beserta Ismail, dapat dikatakan telah padam[11]

    


[1] DR. N. Husni Rahim, Sejarah Kebudayaan Islam. (Jakarta: Direktur Pembinaan Perguruan Agama Islam. 1997), hal 1

[2]  Sejarah Peradaban Islam

[3] Ibid, hal 6

[4]

[5]

[6] Dedi Supriyadi, M.Ag. Sejarah Peradaban Islam, (Bandung; Pustaka Setia, 2008) hal 52

[7] Dedi Supriyadi. Op.Cit, hal 53

[8] Prof. DR. Abu Su’ud, Sejarah, Ajaran, dan Peranannnya dalam Perdaban Umat Manusia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal 16

[9] Prof. A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal 37-39

[11] Ibid. hal. 11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: